Minggu, 26 Juni 2011

KOMPOSISI CAIRAN INFUS




KOMPOSISI CAIRAN INFUS






DISUSUN OLEH :


 AGUSTINUS ARUT JEMADA



STIKES “ABI” SURABAYA
2010/2011


A.   CAIRAN INFUS

Ø Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah:
a.       Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
b.      Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
c.       Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
d.      “Serangan panas” (head stroke) , kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi.
e.       Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi).
f.       Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh).
g.      Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).

Ø  Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus:
a.       Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah.
b.      Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah.
c.       Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar.
d.      Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.
e.       Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus:
1.      Rasa perih/sakit
2.      Reaksi alergi

Ø  Jenis Cairan Infus
a.       Cairan Hipotonik
Osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel “mengalami” dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.

b.      Cairan Isotonik
Osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).

c.       Cairan Hipertonik
Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin.

Ø  Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:
1.      Kristaloid
Bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis.
2.      Koloid
Ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan steroid.
B.   KOMPOSISI CAIRAN INFUS

1.      ASERING
ü  Indikasi
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi:
Gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
ü  Komposisi
Setiap liter asering mengandung :
·         Na+  ……………….. 130 mEq
·         K+ …………………….4 mEq
·         Cl- ………………….109 mEq
·         Ca++ …………………..3 mEq
·         Asetat (garam) ………28 mEq
ü  Keunggulan
a.       Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati
b.      Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus
c.       Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran
d.      Mempunyai efek vasodilator
e.       Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20% sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral

2.      KA-EN 1B
ü  Indikasi
a.       Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)
b.      < 24 jam pasca operasi
c.       Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara intravena. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam (anak-anak).
d.      Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam.
ü  Direkomendasikan untuk usia ≥ 3 tahun atau berat badan ≥ 15 kg.

3.      KA-EN 3A & KA-EN 3B
ü  Indikasi
a.       Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas.
b.      Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam).
c.       Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A.
d.      Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B
ü  Direkomendasikan untuk usia ≥ 3 tahun atau berat badan ≥ 15 kg.

4.      KA-EN MG3
ü  Indikasi
a.       Mengandung Kalium dalam adar tepat untuk memelihara homeostasis tubuh (20 mEq/L).
b.      Mengandung Natrium dalam kadar moderat untuk menghindari resiko hepernatremia (50 mEq/L).
c.       Mensuplai kalori yang sesuai dengan kebutuhan pasien untuk mencegah katabolisme protein (1,5 liter KA-EN MGE = 600 kcal).
d.      Tersedia dalam 2 bentuk kemasan yang sangat memudahkan untuk dikombinasikan dengan sediaan asam amino (AMPIRAMEN atau PAN-AMIN G).

5.      KA-EN 4A
ü  Indikasi
a.       Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak.
b.      Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal.
c.       Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik.
d.      Dosis sebaiknya disesuaikan dengan kondisi, usia dan berat badan pasien.
ü  Komposisi (per 1000 ml):
·         Na+ ……………… 30 mEq/L
·         K+ ……………........ 0 mEq/L
·         Cl- ………………. 20 mEq/L
·         Laktat ……………10 mEq/L
·         Glukosa …………..40 gr/L
ü  Direkomendasikan untuk usia < 3 tahun atau berat badan < 15 kg.

6.      KA-EN 4B
ü  Indikasi
a.       Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun
b.      Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia
c.       Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik
d.      Dosis sebaiknya disesuaikan dengan kondisi, usia dan berat badan pasien
ü  Komposisi (per 1000 ml)
·         Na+ ……………………..30 mEq/L
·         K+ ……………………… 8 mEq/L
·         Cl- ……………………. 28 mEq/L
·         Laktat …………………10 mEq/L
·         Glukosa ……………….37,5 gr/L
ü  Direkomendasikan untuk usia < 3 tahun atau berat badan < 15 kg

7.      Otsu-NS
ü  Indikasi
a.       Untuk resusitasi
b.      Kehilangan Cl >>, misalnya muntah-muntah
c.       Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium : asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar.

8.      Otsu-RL
ü  Indikasi
a.       Resusitasi
b.      Suplai ion bikarbonat
c.       Asidosis metabolik
9.      MARTOS-10
ü  Indikasi
a.       Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik
b.      Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi berat, stres berat dan defisiensi protein
c.       Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam
d.      Mengandung 400 kcal/L

10.  AMIPAREN
ü  Keunggulan
·         Mengandung asam amino 10% dan BCAA 30 %
·         Suplai aam amino pada stres metabolik berat.
·         Memperbaiki imbang nitrogen.
ü  Indikasi
a.       Stres metabolik berat
b.      Luka bakar
c.       Infeksi berat
d.      Kwashiorkor
e.       Pasca operasi
f.       Total Parenteral Nutrition
g.      Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit
h.      Informasi : kecepatan pemberian asam amino adalah 10 gr/jam.

11.  AMINOVEL-600
ü  Indikasi
·         Mengandung asam amino 5% dan BCAA 8,8%
·         Mengandung sorbitol sebesar 5% sebagai sumber kalori
·         Suplai asam amino, kalori, elektrolit dan vitamin dalam kombinasi praktis
ü  Keunggulan
a.       Nutrisi tambahan pada gangguan saluran gastrointestinal, misalnya short bowel syndrome, anoreksia, dan kelainan gastro-intestianal berat.
b.      Penderita gastrointestinal yang dipuasakan, misalnya fistula enterokutan
c.       Kebutuhan metabolik yang meningkat (misalnya luka bakar, trauma dan pasca operasi)
d.      Stres metabolik sedang
e.       Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tetes per menit)

12.  PAN-AMIN G
ü  Indikasi
·         Tifoid
·         Suplai asam amino pada : hipoproteinemia dan stress metabolik ringan
·         Nutrisi dini pasca operatif
·         Katabolik ringan
·         Dosis dewasa: 500 ml selama 60-100 menit
·         Batasan dosis D-Sorbitol = 100 gr/hari
ü  Keunggulan
·         Mengandung asam amino sebesar 2,72% untuk mencukupi kebutuhan basal
·         Mengandung sorbitol sebesar 5%
·         Suplai asam amino dan kalori secara praktis

13.  RINGER LAKTAT/RINGER ASETAT
ü  Indikasi
a.       Mengatasi kehilangan cairan ekstraseliler abnormal yang akut.
b.      Dosis lazim NS, RL, RA: 500-1000 ml dengan kecepatan 300-500 ml per jam (kira-kira 75-125 tetes/menit)
c.       Pada syok, dehidrasi , dan DSS bias diguyur (20 ml/kg BB/jam)

14.  DEXTRAN
ü  Indikasi
a.       Resusitasi
b.      Pengganti plasma, pada luka bakar
c.       Peningkatan sirkulasi kapiler, misalnya Infark miokardial akut, syok kardiogenik, hemoragik atau septic.
ü  Dosis pemberian Dextran
a.       Pada syok: 1000 ml Dextran 40, dapat diberikan bersamaan dengan larutan Kristaloid
b.      Untuk menghindari pendarahan yang berlebihan, dosis maksimal:
·         Dextran 40: <15 ml/kg BB/hari
·         Dextran 70: 20 ml/kg BB/hari

15.  TRIPAREN
ü  Indikasi
·         Suplai air, elektrolit, kalori melalui vena sentral dimana intake oral maupun enteral tidak cukup atau tidak dimungkinkan.
·         Diberikan sebagai nutrisi parenteral total
·         Infus kombinasi GFX dalam perbandingan ideal 4-2-1
·         Optimal diberikan sebagai cairan dasar untuk sistem TPN pada pasien karena mengandung elektrolit dan trace element yang lengkap
·         Memudahkan pengontrolan terhadap hiperglikemia pada pasien post operasi
·         Efektif diberikan pada pasien diabetes mellitus
·         Dosis : 1800 ml/24 jam melalui vena sentral.

16.  MANITOL
ü  Indikasi
·         Gagal ginjal akut: diperlukan test dose 0.2 g/kg, diberikan dalam 3-5 menit.
·         Respon memadai jika volume urin 40 ml/jam (diukur dalam 2-3 jam).
·         Jika ada respon dosis dilanjutkan 100 g, diberikan dalam 90 menit sampai beberapa jam. Jika tidak, ada respon, pemberian tidak dilanjutkan.
·         Peningkatan tekanan intraokuler, edema otak: digunakan larutan 20%.
·         Dosis total 0,25-2 g/kg BB diberikan dalam 30-60 menit.
·         Osmolaritas serum tidak boleh melebihi 320 mOsm/L untuk mencegah dehidrasi intraseluler.

17.  MEYLON
ü  Indikasi
a.       Asidosis, karena defisit bikarbonat.
b.      Penyakit Meniere dan “Motion Sickness”.
c.       Dosis : BE x 30% x BB. Biasanya diberikan 50% dari jumlah yang dihitung.
18.  MgSO4 - 20% MgSO4 - 40%
ü  Indikasi
Mengontrol dan mencegah kejang pada pre-eklampsia dan eklampsia
ü  Dosis:
·         Pre-eklampsia: 10 ml (4 g) MgSO4, IM, dapat diulang 4 g tiap 6 jam.
·         Eklampsia: dosis initial 8 g dalam larutan 40% IM, selanjutnya 4 g/6 jam.

19.  OTSUTRAN-L
ü  Pengganti plasma, pada luka bakar, peningkatan sirkulasi kapiler, misalnya infark miokard akut, syok kardiogenik, hemoragik atau septik.

20.  Otsu-NS 100 ml
Otsu-D5 100 ml
ü  Indikasi
·         Sebagai pelarut obat-obatan yang digunakan secara intermitten IV drip
·         Dosis pemberian 100 ml untuk sekali pemberian sesuai dengan petunjuk dari obat yang diberikan
·         Kadar plasma dan lama kerja obat yang sesuai dapat dicapai dalam waktu bersamaan
·         Dosis yang sama  tapi mampu memberikan kadar plasma yang lebih baik
·         Dosis yang lebih tinggi dapat diberikan dengan resiko toksisitas lebih rendah terutama pada obat dengan indeks terapeutik sempit
·         Lebih mudah mengatur laju pemberian obat
·         Lebih sedikit resiko mengiritasi vena
·         Infus dapat segera dihentikan bila menimbulkan efek samping
·         Mudah digunakan oleh perawatan







1 komentar: